UU Cipta Kerja, 2, 9 Juta Anak Butuh Lapangan Pekerjaan

UU Cipta Kerja, 2, 9 Juta Anak Butuh Lapangan Pekerjaan

JAKARTA – Pengesahan Undang-Undang Cipta Kegiatan (UU Ciptaker) menimbulkan penolakan lantaran beberapa kelompok masyarakat. Salah utama yang menjadi konsen dari masyarakat adalah mengenai ketenagakerjaan.

Banyak informasi yang berputar mengenai UU Cipta Kerja yang merugikan para pekerja. Dari mulai berkurangnya waktu libur, upah kegiatan, pesangon hingga potensi adanya perikatan seumur hidup bagi para praktisi dan buruh.

Menteri Koordinator bagian Perekonomian Airlangga Hartarto meminta kepada seluruh masyarakat dan stakeholder memahami substansi daripada Udang-Undang (UU) Menjadikan Kerja. Sehingga, tidak terpancing di isu-isu yang berkembang di jalan dan kesimpangsiuran informasi atau hoax.

Menurut Airlangga, UU Cipta Kerja ini dimaksudkan untuk menyederhanakan regulasi dan petunjuk yang saat ini dinilai terlalu banyak, sehingga investasi yang menyelap semakin besar.

Baca Juga:   Menko Airlangga Buka-bukaan soal Waktu Kerja tenggat Cuti Hamil di UU Ciptaker 

Investasi dengan semakin besar juga berdampak kepada penyediaan lapangan kerja yang semakin luas. Hal ini menjadi petunjuk positif karena ada sekitar dua, 92 juta anak muda dengan membutuhkan lapangan pekerjaan.

“Ada 2, 92 juta anak muda yang membutuhkan lapangan pekerjaan apalagi di tengah pandemi covid ini kebutuhan atas lapangan kerja baru sangat mendesak, ” ujarnya dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Jakarta, Rabu (7/10/2020) malam.

Mantan Menteri Perindustrian itu menambahkan, UU Cipta Kegiatan dibuat intuk memenuhi kepentingan rakyat, disusun dan didorong melalui DPR RI. Sehingga kehadirannya pun memberikan kepastian hukum dan diperlukan di penciptaan lapangan kerja dan kepastian dalam bekerja.

“80% pekerja kita pendidikannya membuang ke bawah dan 39% ialah SD. Oleh karena itu sangat penting agar sektor padat karya terbuka, ” jelasnya.

(dni)