Tagih Pajak di Tengah Corona, Sri Mulyani: Tidak Mudah

Tagih Pajak di Tengah Corona, Sri Mulyani: Tidak Mudah

JAKARTA semrawut Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa pemerintah telah menggunakan instrumen fiskal untuk selamatkan masyarakat dari masalah kesehatan, sosial, hingga ekonomi di situasi pandemi Covid-19.

Kemudian, sendat dia, salah satu instrumen tersebut dengan pemberian insentif pajak. Kejadian tersebut dilakukan meskipun penerimaan pajak masa ini juga mengalami kontraksi hingga 17% akibat pandemi Covid-19.

Mengaji Juga:   13 Juta Wajib Pajak Lapor SPT, Tingkat Kepatuhan Naik

Sementara di satu sisi, biaya negara terus mengalami pembengkakan, sehingga menyebabkan defisit APBN meningkat 6, 3% dari GDP atau lebih dari Rp1. 000 triliun.

“Jadi, pada saat pengakuan pajak sedang tertekan, justru kita tetap memberikan insentif perpajakan. Kejadian ini teman-teman pajak Ditjen Retribusi (DJP) mengalami tantangan yang tidak mudah, ” ujar dia dalam telekonferensi, Jumat (23/10/2020).

Dia juga mengingatkan agar seluruh pegawai DJP tetap harus melaksanakan tugas untuk mengumpulkan penerimaan negeri walaupun ada pandemi Covid-19.

“Di sisi lain selalu wajib pajak tengah menghadapi status sulit sehingga kemampuannya membayar pajak juga menurun, ” ungkap dia.

Menurutnya berbagai insentif pajak akan membantu pelaku jalan melewati masa sulit agar mampu segera bangkit ketika pandemi sudah. Pihaknya juga meminta para personel DJP terus mendukung wajib retribusi yang sedang menghadapi masa pelik tersebut.

“Kita memperhitungkan beberapa di antara wajib pajak pasti memiliki keuntungan dan kemampuan menunaikan pajak. Pada kelompok wajib retribusi inilah pemungutan pajak tetap harus berjalan, ” tandas dia.

(kmj)