Pengamalan Bisnis Kotor Selama Covid-19, Setelah Tes Antigen Tanda Kini Vaksin Ilegal

praktik-bisnis-kotor-selama-covid-19-setelah-tes-antigen-bekas-kini-vaksin-ilegal-1

JAKARTA – Masyarakat kembali dikagetkan dengan adanya praktik jual beli vaksin Covid-19 di Medan, Sumatera Melahirkan. Padahal belum lama terjadi kasus praktik daur kembali alat rapid test antigen bekas yang juga terjadi di Medan.

Program vaksinasi Covid-19 diketahui tak dipungut biaya. Namun praktik-praktik itu membuka lupa bahwa ada yang memanfaatkan bisnis ‘kotor’ di sedang pandemi Covid-19.

Kapolda Sumut Irjen Pol RZ Panca Putra, menetapkan empat orang berinisial SW, IW, KS, dan SH sebagai tersangka dalam kasus dugaan jual kulak vaksin COVID-19 di Praja Medan. Mirisnya, tiga lantaran empat tersangka merupakan PNS, yakni IW, KS, dan SH.

IW seorang dokter yang berkedudukan sebagai aparatur sipil negara dan bertugas di Rutan Klas IA Tanjung Gusta Medan. Lalu, KS merupakan dokter sekaligus aparatur biasa negara di Dinas Kesehatan Sumut. Begitu juga dengan SH yang merupakan aparatur sipil negara di Dinas Kesehatan Sumut. Sedangkan, SW, merupakan masyarakat sipil.

Baca Juga:   Jokowi: Indonesia Siap Jadi Hub Produksi Vaksin Covid-19 di Asia Tenggara

“Pengungkapan tindak pidana korupsi dengan cara menerima suap yang dilakukan oleh aparatur biasa negara pada pelaksanaan pembagian dan pemberian vaksin kepada masyarakat dengan cara menerima imbalan berupa uang, ” kata Panca di Daerah, dikutip dari VOA Indonesia, Sabtu (22/5/2021).

Para tersangka itu memperjualbelikan vaksin yang seharusnya diperuntukan kepada pelayan publik serta narapidana di Rutan Tanjung Gusta.

“Tapi itu tidak diberikan ke sana. Tapi diberikan kepada masyarakat yang membayar, ” ujar Panca.

Dalam modus operandi kasus dugaan jual beli vaksin Covid-19 jenis Sinovac itu, para tersangka memiliki tugas masing-masing. Diawali dari SW yang merupakan agen properti dari perumahan dan bekerja mengumpulkan masyarakat yang hendak divaksin.

Berarakan, SW berkoordinasi dengan IW untuk mendapatkan vaksin yang nantinya akan dijual pada masyarakat. Hasil penjualan vaksin Covid-19 itu kemudian diterima IW dan KS. Di mendapatkan vaksin Covid-19. IW meminta pasokan vaksin Covid-19 kepada SH yang bekerja di Dinas Kesehatan Sumut.

Baca Juga:   Harga Vaksin Gotong Royong Dinilai Terlalu Mahal bagi Perusahaan Mungil

“Memberikan vaksin kepada IW minus melalui mekanisme dan prosedur sebagaimana yang seharusnya, ” ujar Panca.

Dalam kasus ini para-para tersangka memasang tarif senilai Rp250 ribu bagi umum yang ingin melakukan vaksinasi. Bisnis kotor ini sudah yang dilakukan sebanyak 15 kali dan berlangsung sejak April hingga Mei 2021. Keuntungan dalam kegiatan vaksinasi berbayar ini mencapai Rp271 Juta dari 1. 085 orang yang divaksin.

“Di mana Rp238 juta itu diberikan pada IW dan sisanya Rp32, 5 juta itu diterima atau diberikan kepada SW. Karena dalam kesepakatan mereka membagi Rp250 ribu. Di mana Rp30 ribu diberikan ke SW dan Rp220 ribu untuk IW, ” ucap Panca.