Pekerja Sebut Lulusan SMA hingga S1 Tidak Memiliki Keyakinan Kerja, Kok Bisa?

buruh-sebut-lulusan-sma-hingga-s1-tidak-memiliki-kepastian-kerja-kok-bisa-1

JAKARTA – Presiden Pakta Serikat Pekerja Indonesia ( KSPI ) Said Iqbal mengatakan kalau ada beberapa tuntutan pekerja dalam aksi demo sinkron pada tanggal 1 Mei 2021.

Lengah satunya adalah menuntut MK untuk mencabut PP bani UU Membuat Kerja klaster ketenagakerjaan karena para pekerja menilai bahwa PP itu menimbulkan tidak adanya keyakinan kerja.

“Bahwa kalau kita bicara pelestarian buruh, maka perlindungan klub. Karena bukan hanya buruh yang bekerja, tapi anak-anak masyarakat yang sudah lucut sekolah dan masuk rekan kerja akan mengalami kemerosotan upah, ” ungkap Said dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Selasa (27/4/2021).

Menangkap Juga:   Massa Buruh Bergerak Menuju Mahkamah Konstitusi 

Makin kalau di tahun 2022 tidak ada penetapan Imbalan Minimum Provinsi (UMP), maka boleh jadi upah buruh pula menurun.

“Ini berlaku juga tidak ada kepastian kerja. Orang dengan akan masuk pasar kerja, siapapun dia, mau lulusan S1, bahkan lulusan D3, SMK, maupun SMA, tidak memiliki kepastian kerja, ” tambah Said.

Hal ini karena kongsi berbondong-bondong menggunakan jasa leveransir outsourcing yang menjadi kliennya. Itu pun, lanjut Said, tanpa sebuah peraturan dengan jelas berapa upahnya, gadai kesehatan, dan jaminan purna bakti.

“Ini mendalam manpower trading, perdagangan gaya kerja. Masa tenaga kegiatan dijual beli sama leveransir outsourcing. Enggak akan agen ini membayar pesangon, ” cetusnya.