Literasi Keuangan RI Meningkat, Ini Buktinya Kondisi 2013 vs 2020

Literasi Keuangan RI Meningkat, Ini Buktinya Kondisi 2013 vs 2020

JAKARTA – Tingkat literasi keuangan di Indonesia terus menyusun. Peningkatan itu sejalan dengan peran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang terus mendorong pertumbuhan sektor jasa keuangan Indonesia.

Pemangku Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto mengatakan, indeks literasi serta inklusi keuangan di Indonesia sungguh meningkat dalam beberapa tahun final.

Berdasarkan Data Survei OJK, dia menyebutkan literasi keuangan Indonesia naik dari 21% tahun 2013 menjadi 40% tahun 2020. Meski naik, dia mengatakan potensi untuk meningkatkan peran sektor pertolongan keuangan bagi perekonomian masih betul besar.

  “Ini masih membutuhkan perjuangan panjang lebih dari setengah masyarakat Indonesia belum memahami sektor keuangan dengan betul. Banyaknya masyarakat yang belum terliterasi ini menjadi peluang bagi pelaku investasi bodong, ” jelas Eko, dalam Forum Diskusi Salemba Policy Center ILUNI UI dengan inti “9 Tahun Peran Otoritas Bantuan Keuangan dalam Menjaga Inklusi Pertolongan Keuangan Indonesia”, Kamis (3/12/ 2020).

  Dari bagian produk, paparnya, literasi keuangan juga masih dipimpin oleh perbankan. Berikut datanya:

1. Perbankan

Perbankan naik daripada 28, 9% tahun 2016 menjelma 36, 12% tahun 2020

2. Asuransi

Asuransi naik dari 15, 8% menjadi 19, 40%

  3. Dana Pensiun

Dana pensiun naik dibanding 10, 9% menjadi 14, 13%.

4. Pasar simpanan

Pasar modal terangkat dari 4, 4% menjadi 4, 92%

5. Institusi pembiayaan

Lembaga pembiayan mengalami kenaikan dari 13% menjelma 15, 17%

6. Pegadaian

Pegadaian dari 17, 8% meningkat menjadi 17, 81%

7. Lembaga Keuangan Mikro 

Menyusun dari 0% menjadi 0, 82%.

Sementara berdasarkan provinsi, tingka literasi keuangan tertinggi masih ada di DKI Jakarta terangkat dari 59, 16% menjadi 94, 76% selama periode yang sama.

Di Bali naik dari 38, 06% menjadi 92, 91%. Namun, di beberapa daerah masih relatif rendah, seperti dalam Papua dan Papua Barat.

“Sementara itu, capaian inklusi keuangan sudah relatif lebih baik, yaitu lebih dari 75% bangsa Indonesia sudah terhubung dengan zona keuangan. Ini sebuah capaian dengan bagus, tetapi bicara dampaknya sedang banyak tantangannya, ” paparnya.

Dia menambahkan meskipun terus meningkat, indeks inklusi keuangan Indonesia masih di bawah Thailand yang mencapai 76%, Thailand 82% serta Malaysia 85%. Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus menunjukkan potensi kedudukan sektor jasa keuangan terhadap perekonomian masih sangat besar.

“Perlu upaya akselerasi dan optimalisasi dari inklusi keuangan. Tidak cuma melihat dari target dan progres dengan ada peningkatannya. Namun, kalau melihat dampak ke hilir, yaitu bagaimana pengaruhnya dalam mendorong kemajuan ekonomi, ” papar Eko.

CM

(yao)