Kenaikan Tarif Tol Abaikan Pandemi Covid-19?

Kenaikan Tarif Tol Abaikan Pandemi Covid-19?

JAKARTA – Di tengah pandemi Covid-19, sembilan ruas jalan tol di Jabodetabek mengalami kenaikan tarif. Selain itu, dua jalan tol , Jakarta-Cikampek serta Jakarta-Cikampek II Elevated dilakukan penyatuan tarif.

Adapun buku tol yang bakal dikenakan habituasi tarif ialah; Penjaringan-Kebon Jeruk, Ulujami-Pondok Pinang, Kebon Jeruk-Ulujami, Pondok Pinang-Taman Mini, Taman Mini-Cikunir, Cakung-Rorotan, Cikunir-Cakung, Akses Tanjung Priok (Rorotan-Kebun Bawang) dan Jalan Tol Pondok Aren-Ulujami.

Baca Juga:   Pungutan Cimanggis-Cibitung Beroperasi 10 November, Sedang Gratis Lho

Menurut Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno, kenaikan tarif memang sesuai benar Undang-Undang (UU) Jalan dan serupa di PP, di mana kenaikan tarif dilakukan dalam dua tarikh sekali. Tujuan dari aturan tersebut menarik investor karena tidak tersedia jaminan tarifnya naik maka investor juga tidak bisa memprediksi kapan akan dia lepas investasinya tersebut yang berarti konsesinya akan buyar karena dalam kurun waktu terbatas jalan tol itu sudah dikembalikan kepada negara.

“Kenaikan ini memang tidak serta merta naik, tentunya harus melalui kepala proses, ada mekanismenya, jalan tol itu ada SPM dari jurusan keamanan, kenyamanan, dan sebagainya dinilai, siapa yang menilai adalah Awak Pengatur Jalan Tol (BPJT) jika itu sesuai SPM maka berhak dapat kenaikan dan jika tidak memenuhi syarat maka tidak bakal naik, ” ujar Djoko dalam acara Market Review IDX Channel, Rabu (4/11/2020).

Baca Juga:   3 Bayaran Tol Ini Naik, Cek Besarannya

Namun, sebab kondisi pandemi Covid-19 yang berlaku di seluruh dunia dan mewujudkan perekonomian melambat, Djoko menyebut kejadian ini akan menjadi bahan pertimbangan untuk naik atau tidaknya bayaran tol.

“Saat tersebut kan bukan hanya Indonesia tapi dunia juga sedang dalam periode pandemi ekonominya agak melambat, jadinya ini bisa jadi bahan petunjuk naik atau tidak atau ditunda, atau mungkin ada klasifikasi yang lain sehingga kalau langsung naik kelompok belum bisa menerima semua, hamba pikir kondisi psikologis masyarakat juga harus dilihat, ” ucapnya.

(fbn)