Kehormatan Minyak Dunia Naik 2%, Sentuh Level USD61, 42 per Barel

harga-minyak-dunia-naik-2-sentuh-level-usd6142-per-barel-1

JAKARTA – Harga minyak negeri naik lebih dari 2% pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), meniadakan penurunan lima hari berendeng, tetapi mengakhiri minggu tersebut dengan kerugian sekitar tujuh% karena gelombang baru infeksi virus corona di segenap Eropa mengurangi harapan kalau permintaan bahan bakar akan segera pulih.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei berdiri USD1, 25 atau 2, 0%, menjadi ditutup di USD64, 53 per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) GANDAR terangkat USD1, 42 atau 2, 4%, menjadi bermukim di USD61, 42, dilansir dari Antara, Sabtu (20/3/2021).

Menyuarakan Juga:   Harga Minyak Turun karena Jerman & Prancis Tangguhkan Vaksin AstraZeneca

Rebound terjadi setelah penurunan pintar di pasar minyak, dengan membuat minyak mentah AS dan Brent jatuh per 7, 12% dan 6, 94% pada Kamis (18/3/2021), saat ekonomi-ekonomi besar Eropa memberlakukan kembali penguncian, tengah program vaksinasi di kerajaan itu diperlambat oleh urusan distribusi dan kekhawatiran efek samping vaksin.

“Harga minyak mengalami laku jual yang serius kemarin, ” kata Carsten Fritsch, analis energi di Commerzbank Research, dalam sebuah rencana pada Jumat (18/3/2021), menambahkan “satu peran kunci sah dimainkan oleh cara pandemi virus corona berkembang pada Eropa. “

Baca Juga:   Harga Minyak Bergerak Menyusut, Brent Dijual USD68/Barel

“Meningkatnya total kasus baru dan lambannya kemajuan vaksinasi membuat penyekatan mobilitas tidak mungkin dilonggarkan dalam waktu dekat, ” dan “ini kemungkinan bakal mengurangi permintaan minyak untuk beberapa waktu, ” tambahnya.

Harga sembuh pada Jumat (19/3/2021) karena banyak pelaku pasar menentang aksi jual sebagai sesuatu yang berlebihan.

“Aksi jual akan menggerakkan beberapa hal yang mampu memperlambat reli, ” kata Phil Flynn, analis superior di Price Futures Group di Chicago. “OPEC mau lebih mengkhawatirkan COVID-19, siap ini meningkatkan kemungkinan bahwa mereka akan memperpanjang kontraksi produksi lagi, dan dengan penurunan tajam harga minyak, hal itu dapat menekan insentif produsen minyak cacat AS untuk menjadi dengan terdepan dalam produksi itu. ”