Kausa WFH, Penyewa Kantor di Jakarta Turun Drastis

Kausa WFH, Penyewa Kantor di Jakarta Turun Drastis

JAKARTA – Tingkat hunian perakntoran di Jakarta terus mengalami penurunan. Makin dengan adanya kebijakan Work From Home (WFH) oleh beberapa perusahaan membuat ada reduksi penggunaan kawasan kantor.

Senior Associate Director Colliers International Nusantara Ferry Salanto mengatakan selama enam bulan terakhir, tingkat hunian perkantoran terus menurun. Ada beberapa pasal turunnya okupansi atau tingkat hunian perkantoran ini salah satunya ialah karena adanya kebijakan WFH.

  Baca juga: Kondisi Betul Berat, Tak Ada Tambahan Tempat Perkantoran di Kuartal II-2020

“Tingkat hunian & tarif sewa yang kita lihat di CBD dan luar medan CBD. Memang tren tingkat hunian memang selama enam bulan belakang terus menurun, ” ujarnya, Jakarta, Sabtu (11/7/2020).

Menurut Ferry, secara umum okupansi perkantoran turun dari 83, 5% menuju 82%. Diprediksi angka level hunian perkantoran akan terus mendarat menyusul bertambahnya pasokan.

“Penyebabnya tidak lain karena memang supply yang masuk ini tidak bisa mengimbangin dengan jumlah penyerapan di kantor. Sehingga dengan umum okupansi turun dari 83, 5% sekarang hanya jadi 82%, ” jelasnya.

  Baca juga: Minat Perusahaan TI Sewa Kantor di Jakarta Diproyeksi Terus Tumbuh

Bahkan menurut Ferry, peresapan perkantoran ini akan berada di angka 78%. Angka ini menjadi titik terendah dalam beberapa tahun belakangan.

“Dan untuk mengantisipasi banyaknya supplay yang masuk sampai 2021 ditambah sedang dengan tidak terlalu berkembangnya peresapan office sampai 2020 okupansi awak perkirakan akan turun dibawah 82% pada tahun 2020 dan lalu akan terus turun tahun 2021 sekitar 78%, ” kata Ferry.

Menurut Ferry, prediksi tersebut adalah proyeksi saat situasi normal. Artinya jika status seperti pandemi ini perlu tersedia effort lagi agar tingkat hunian perkantoran di Jakarta bisa kembali naik di atas 80%.

  Baca juga: Perusahaan TI Sesaki Ruang Perkantoran Premium

“Penyebabnya antara lain karena dasar bila sektor ini kita harapkan terjadi recovery apabila bangkit kembali, maka tetap diperlukan suatu nafsu yang kuat supaya sektor itu bisa kembali menuju titik okupansi diatas 80%, ” jelas Ferry.

“Tapi secara kondisi yang sekarang di mana semuanya sedang tidak normal. Proyeksi itu terlalu tinggi jadi makanya ditambah dengan proyeksi penyerapannya lembut supplay besar. Tingkat hunian pada akhir 2021 itu akan menyentuh titik terendahnya dimana CBD 78% sedangkan untuk kawasan di luar CBD 79%, ” imbuhnya.

(rzy)

Loading…