Cerita Emak-Emak Buruh Pabrik Rokok Bekal 5 Masker Setiap Hari

Cerita Emak-Emak Buruh Pabrik Rokok Bekal 5 Masker Setiap Hari

KUDUS – Emak-emak yang satu memang beda. Sebagai buruh pabrik rokok yang tiap hari bertemu banyak orang di tempat kerja, mesti sadar diri untuk menjaga kesehatan. Dia sadar Covid-19 menjadi ancaman yang belum usai.

Namanya Endang Murwati (46), buruh pabrik rokok salah PT Norojono di Kudus Jawa Tengah. Selama masa pandemi ini, Endang ketika bekerja selalu membawa bekal tiga sampai lima masker. Setiap beberapa jam sekali, dia selalu mengganti masker kain yang dikenakan.

Wajar saja, karena masker yang Endang miliki ada 17 buah. Dia merinci, delapan masker dari pemberian tempatnya bekerja, sisanya dibeli sendiri dan sebagian diberi orang. Di tempatnya bekerja, Endang juga taat mengikuti aturan penataan tempat duduk yang sudah diterapkan tiga bulan.

Baca Juga: Khofifah Sebut Lansia Kelompok Paling Rentan Terpapar Covid-19

Antar-tempat duduk pekerja di beri jarak plus dipasang pembatas dengan plastik. Selain wajib mengenakan masker, sebelum masuk ke ruang kerja, semua pekerja dicek suhu tubuhnya dan dipastikan telah cuci tangan menggunakan sabun.

“Kalau tidak pakai masker disuruh pulang Pak. Saya punya kalau enggak 16 ya 17 masker Pak,” kata Endang, saat berdialog dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, yang mengecek penerapan new normal di pabrik tersebut, Kamis (2/7/2020).

Meski sempat terkejut, Ganjar membenarkannya jawaban Endang. Ganjar mengatakan untuk pemakaian masker kain memang baiknya tidak lebih dari empat jam. Pemahaman yang luas terhadap protokol kesehatan di tempat kerja, Endang pun mendapat hadiah dari Ganjar berupa uang tunai Rp500 ribu.

Baca Juga:  32 Lansia Penghuni Panti di Rembang Positif Corona

Tugase jenengan sosialisasi ke teman-teman. Masker itu jadikan bagian dari baju yang harus kita kenakan,” kata Ganjar.

Pemahaman karyawan terhadap penerapan normal baru di tempat kerja, salah satunya menjadi tanggung jawab perusahaan. Maka sosialisasi dan pengawasan mesti terus dilakukan. Dengan demikian, meski di tengah pandemi tapi aktivitas ekonomi, di dunia industri khususnya masih tetap bisa berjalan.

“Saat ini memang harus ada yang nge-gas dan nge-rem. Saya di pemerintahan, bupati, dan para pengusaha ini yang nge-gas agar ekonomi tidak mandek. Tapi harus ada yang ngerem yaitu dari sisi kesehatan. Maka harus ada saling pengertian,” kata Ganjar.

“Nah para pekerja bisa jadi juru kampanye untuk pemberlakuan itu, seperti Bu Endang tadi,” katanya.

(kmj.-)

Loading…