Barang apa Alasan Google Cs Guyur Investasi Ratusan Triliun Rupiah di India?

Barang apa Alasan Google Cs Guyur Investasi Ratusan Triliun Rupiah di India?

JAKARTA Perusahaan berbasis teknologi ternama dunia menanamkan modalnya USD17 miliar atau setara Rp251, 4 triliun (kurs (Rp14. 792 per USD) India pada pokok 2020. Investasi tersebut diperuntukkan buat membantu jaringan internet bagi masyarakat India.

Adapun kongsi teknologi di antaranya, Amazon menjanjikan USD1 miliar, diikuti dengan Facebook yang menginvestasikan hampir USD6 miliar pada akhir April dan dengan terakhir Google yang berkomitmen dengan dana investasi USD10 miliar.

Serupa dilansir dari laman CNN Business, Jakarta, Senin (20/7/2020), sejak pandemi Covid-19 meluas di sebagian gembung negara dunia, hal ini memproduksi perekonomian global menurun. India biar menja negara yang sangat terdampak karena Covid-19.

Baca Juga:   Digitalisasi, OJK Yakin Nasabah Tak Mau Lagi ke Kantor Cabang

Ditambah lagi pertengkaran diplomatik India dengan China diketahui berkembang hingga sektor teknologi. Padahal, India menjadi daya tarik bagi perusahaan-perusahaan teknologi.

Untuk tersebut, perusahaan teknologi yang sebagian tumbuh berasal dari AS melakukan investasi kepada India di bidang teknologi yang sudah lebih dari USD20 miliar.

Investasi internet di India memiliki peluang yang sangat besar, sebab pengguanaan teknologi berbasis internet saat ini mencapai lebih dari 700 juta pemakai. Tapi sekitar setengah miliar belum pernah online.

Taat Jay Gullish yang merupakan Besar Kebijakan Teknologi di Kelompok Pembelaan US-India Business, banyak keyakinan kalau dalam jangka waktu panjang India akan menjadi pasar yang cantik denan peraturan yang cukup lurus dan transparan.

Baca Juga:   Transaksi Digital Meningkat, Covid-19 Bikin Sadar Klub soal Layanan Online

Faktor China

Sebagian besar Silicon Valley ditutup dari China semasa bertahun-tahun. Disebabkan oleh mekanisme pengawasan besar negara China. Selain tersebut, adanya undang-undang keamanan nasional yang kontroversial di berlakukan di Hongkong. Yang di mana layanan Google dan Facebook masih bisa diakses karena layanan internet yang relatif bebas.

Undang-undang yang memberikan otoritas bagi Hongkong dengan menjadi kekuatan besar untuk mengatur paltform yang berbasis teknologi. 3 perusahaan besar seperti Facebook, Om google dan Twitter mengatakan bahwa itu akan berhenti berbagi data kepada pemerintahan Hongkong, sebelumnya TikTok telah mengambil langkah untuk keluar dibanding kota tersebut.

Mark Lemey yang merupakan Direktur Program Universitas Stanford di bidang Norma, Sains dan Teknologi mengatakan bawha bisnis dengan China dinilai bertambah sulit dan juga melibatkan kesepakatan moral yang meresahkan.

Pada pekan lalu, Donald Trump mengklaim kredit untuk menggagalkan rancangan ekspansi sebuah perusahaan teknologi asal China, Huawei. Selain itu, pemerintah juga melarang “melihat” aplikasi Video singkat TikTok milik ByteDance China.

Loading…